Asmaradada

by Wisnu Pamungkas

Hanya hujan saja di sini yang menyapa dengan
ramah, terpantul lewat kaca, mengapa?
Cuma angin lembut yang datang menyongsong
tiba-tiba tenggelam dalam dada yang sepi
dalam ruap bumi yang membuat pertemuan ini
menjadi pahit-pekat
pantaskah ini disebut rindu, bila dada tak pernah beradu
bila dada cuma sia-sia menganga menanti haru

Korek, 21 Desember 1997

1 Komentar

Lebih baru Lebih lama

ads